Jumat, 13 Januari 2012

TLASAMUREP



           Di pelosok desa Blitong terdapat sebuah rumah sederhana milik Mak Surti. Mak Surti adalah orang miskin yang suka menolong orang yang sedang kesusahan. Ia juga mempunyai seorang anak yang bernama Joko. Joko adalah anak yang selalu patuh akan perintah Mak Surti.
            Setiap harinya, Mak Surti selalu mencari kayu bakar di hutan Baijin. Sedangkan, Joko mencari buah-buahan dan sayuran untuk dimakan.
            “ Mak, aku pergi dulu ke hutan ya.” Pamit Joko.
            “ Ya, sana. Nanti Mak nyusul.” Jawab Mak Surti.
            Mak Surti pun bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah. Setelah selesai, Mak Surti pun bergegas menuju hutan Baijin. Namun, saat akan berangkat Joko pun pulang.
            “ Assalamu’alaikum, Mak.” Salam Joko.
            “ Wa’alaikum salam.” Jawab Mak Surti sambil menbuka pintu.
            “ Eh kamu sudah pulang ya, Joko. Cepat sekali.” Tanya Mak keheranan.
            “ Iya, Mak. Karena di hutan banyak buah-buahan dan sayuran yang sudah
             masak, makanya aku pulang cepat.”
            “ Joko, tolong jaga rumah ya ! Mak mau pergi ke hutan dulu.”
            “ Baik, Mak.”
            Mak Surti pun bergegas pergi ke hutan Baijin. Setelah sampai di hutan Baijin, mak Surti langsung mengambili ranting-ranting pepohonan yang berjatuhan untuk digunakan sebagai kayu bakar.
            Saat perjalanan pulang, Mak Surti berpapasan dengan Bu Minah yang sedang bersama dengan Marni anaknya.
            “ Assalamu’alaikum, Mak.” Sapa Marni.
            “ Wa’alaikum salam.”
            “ Mak, dari mana ?” Tanya Bu Minah.
            “ Mak baru saja pulang dari mencari kayu bakar di hutan Baijin.”
             Jawab Mak Surti.
            “ Oh……, ya sudah. Kami duluan ya, Mak.”
            “ ya.”
            Setelah sampai di rumah, Mak Surti langsung memasak makanan yang sudah Joko cari tadi. Setelah jadi, mereka pun langsung memakan makanan tersebut.
            “ Enak ya, Mak.” Ujar Joko.
            “ Iya, dong. Masakan siapa dulu ? Emak.”
            “ Iya, masakan Mak memang yang paling enak.” Jawab Joko sambil memuji Mak.
            Setelah mereka selesai makan, mereka pun melanjutkan perkerjaan mereka seperti biasanya. Setiap hari, pekerjaan seperti itu dilakukan oleh Mak Surti dan Joko. Suatu hari, datang seorang peminta-minta ke rumah Mak Surti.
            “ Mak, minta Mak.” Kata peminta-minta.
            “ Ini Mak kasih pisang goreng. Maaf ya, Adanya hanya itu.”
            “ Tidak apa-apa Mak. Terimakasih ya, Mak.”
            “ Sama-sama.”
            Mak pun melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian, datanglah seorang saudagar kaya yang sombong. Saudagar kaya tersebut bernama Pak Umar.
            “ Sedang apa kau Mak ?” Tanya Pak Umar.
            “ Mak sedang menyapu halaman.” Jawab Mak Surti.
            “ Mak, kenapa rumah Mak seperti gubug reot ?”
            “ Ya, karena memang uang Mak hanya cukup untuk membangun rumah ini.”
             Jawab Mak merendah.
            “ Apakah Mak semiskin itu ?”
            “ Yah…, memang kehidupan Mak begini. Mak sudah berusaha, jadi Mak
             harus mensyukurinya.”
            “ Kasihan, rumah Mak seperti ini.”
            Pak Umar pun meninggalkan Mak. Setiap hari, setiap Pak Umar datang, pasti kerjaanya hanya mengejek Mak saja. Tetapi, dia juga merasa kesal kepada Mak. Karena setiap Pak Umar mengejek,  Mak tetap saja sabar dan tidak marah kepada Pak Umar.
            Suatu hari saat Joko sedang mencari kelapa di hutan untuk dimakan, tiba-tiba Joko pun jatuh dari pohon kelapa tersebut. Luka yang diderita Joko pun cukup parah, sehingga kakinya patah. Akibat kejadian tersebut, Mak pun kekurangan bahan makanan karena tidak ada yang mencarinya.  Mak pun mencoba meminjam uang kepada warga desa Blitong untuk biaya Joko berobat ke tabib.
            “ Bu Minah, bolehkah saya meminjam uang untuk berobat anak saya Joko, Bu ?”
            “ Maaf ya, Mak. Saya juga sedang butuh uang untuk anak saya sendiri.”
            “ Oh, begitu. Ya, tidak apa-apa.”
            “ Oh ya, Mak. Saya dengar-dengar di dalam hutan Baijin terdapat sebuah pohon
             yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Tanaman tersebut bernama Tlasa-
            murep. Mungkin saja bisa menyembuhkan penyakit Joko.”
            “ Oh, begitu. Nanti Mak akan coba cari tanaman tersebut.”
            “ Oh,ya. Dan katanya siapa saja yang bisa menyabut pohon tersebut nantinya ia
  akan bisa menyembuhkan segala penyakit dengan caranya sendiri.”
            Mendengar kata Bu Minah, Mak pun langsung pergi ke hutan Baijin untuk mencari tanaman yang diberitahukan padanya tadi. Mak pun mencari dengan sabar tanpa mengenal kata menyerah. Hingga tak lama kemudian, Mak pun berhasil menemukan tanaman tersebut. Mak pun berhasil menyabut pohon tersebut.
            Ia pun langsung menyeduh tanaman tersebut dengan air panas. Setelah itu, air hasil seduhan tersebut diberikan pada Joko untuk Joko minum.
            “ Joko, ini obatnya. Diminum ya supaya cepat sembuh.” Suruh Mak.
            “ Ya, Mak. Aku akan giat meminum obat ini, agar aku bisa mengerjakan
             pekerjaanku seperti biasanya lagi.”
            2 hari kemudian, Joko pun sembuh. Mak sekarang sudah lega karena Joko tidak sakit lagi. Mendengar hal tersebut Pak Umar tidak suka. Suatu hari, pak Umar berencana akan menyesatkan mak Surti ke dalam hutan Baijin. Dengan cara mentipu dayainya.
“ Mak Surti saya dengar-dengar, di hutan Baijin yang sebelah selatan terdapat
 banyak sekali kayu bakar, buah-buahan, dan sayuran.”
            “ Apa benar ? kalu begitu Mak akan pergi ke sana sekarang.” Jawab Mak Surti.
             Mak Surti pun bergegas pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Pak Umar.
            “ Mak, kok lama sekali, pasti dia sudah tersesat di hutan. Tetapi. Apa benar kalau
             Mak Surti sudah tersesat.”
            Karena penasaran, Pak Umar pun mencoba mengecek ke dalam hutan Baijin. Saat Pak Umar mengecek, ternyata Mak sudah keluar dari dalam hutan Baijin sambil membawa beberapa kayu bakar, buah-buahan, dan sayuran.
            “ Kenapa Mak tidak ada juga ya ?”
            Pak Umar pun mencoba keluar dari hutan Baijin tersebut. Namun, Pak Umar lupa jalan menuju untuk pulang dan akhirnya ia tersesat. Beberapa hari kemudian, Pak Umar tetap berada di dalam hutan Baijin. Ia pun dipenuhi oleh rasa takut, was-was, dan khawatir.
            “ Kenapa tidak ada yang menolongku juga. Kan aku takut di sini sendirian.”
            Mak Surti pun mendengar kabar tentang Pak Umar yang sudah 3 hari ini tidak pulang juga. Warga desa Blitong pun ikut khawatir. Mak Surti pun mencoba mencari Pak Umar ke dalam hutan Baijin.
            “ Pak Umar, Pak Umar di mana ?” Ujar Mak.
            Beberapa kali Mak mengucapkan kata itu, namun tidak ada yang menyahutnya. Hingga tak lama kemudian, Mak mendengar rintihan orang yang sedang lapar. Mak pun menghampiri suara tersebut.
            “ Pak Umar, apakah kau Pak Umar ?” Tanya Mak.
            “ Ya, benar. Ini aku Pak Umar, Mak.”
            “ Pak Umar kamu kemana saja selama ini ?”
            “ Aku tersesat di sini, Mak.”
            “ Apa yang menyebabkan kau tersesat di sini, Pak Umar ?”
            “ Maafkan aku, Mak.”
            “ Maaf atas apa Pak Umar ?”
            “ Sebenarnya, yang kemarin aku bilang itu hanya jebakan saja Mak. Agar
  Mak tersesat di hutan ini. Tetapi, malah aku sendiri yang tersesat.”
“ Ya, tidak apa-apa kok. Kesalahan Pak Umar sudah Mak maafkan.”
“ Terima kasih ya, Mak.”
Sejak saat itu, pak Umar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Semua itu berkat Mak Surti. Sekarang, Pak Umar menjadi saudagar kaya yang dermawan dan suka menolong.

By: Bella Sanara
http://sanarabella.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar