Senin, 06 Februari 2012

Orang yang Dicinta Allah S.W.T dan Rasul-Nya

Alkisah, pada suatu hari Rasullah S.A.W didatangi seorang Arab Badui yang keadaannya sangat memprihatinkan. Badannya kurus kering, terlihat tinggal kulit pembungkus tulang. Pakaiannya lusuh dan rambutnya pun acak-acakan tak terurus. Dengan ekspresi yang mengiba dan perkataan yang terbata-bata , lelaki tua itu menyapa dan mengutarakan hajat nya kepada Rasulullah S.A.W ," Assalamu'alaikum, ya Rasulullah. Sudah beberapa hari ini saya tidak mendapatkan makanan yang bisa kumakan dan tubuhku pun hampir telanjang. Adakah sesuap makanan yang bisa ku gunakan untuk mengganjal perutku serta selembar kain sebagai penutup tubuhku?"
Melihat kondisi serta mendengar keluhan yang telah disampaikan lelaki tua itu, hati Rasulullah S.A.W mulai bergetar dan terharu. Nabi sendiri tidak memiliki apa-apa yang bisa diberikan kepada musafir Badui tersebut. Segera Nabi berkata " Datanglah engkau kepada orang yang dicintai Allah S.A.W dan Rasul-Nya, dan yang lebih mementingkan saudaranya dari pada dirinya sendiri." Dia itu lah Az-Zahra, putri yang paling di sayang oleh Rasulullah S.A.W
Musafir tersebut berangkat kerumah Fatimah r.a dengan diantar Bilal bin Rabbah. Sesampainya didepan pintu rumah yang dituju, dengan suara yang parau dan tubuh bergetar menahan jatuh, musafir itu berkata," Assalamu'alaikum,wahai penghuni rumah yang selalu dicucuri rahmat dan penuh dengan kemuliaan, kepadamu aku meminta bantuan!"
Mendengar suara yang memelas dan penuh harap itu, Fatimah r.a terharu dan segera bertanya," Siapakah kakek ini, adakah sesuatu yang bisa saya bantu ? "
Dengan penuh pengharapan dan suara yang terbata-bata orang Arab Badui tersebut menceritakan penderitaan yang sedang dialaminya, sama seperti yang telah disampaikan kepada Rasulullah S.A.W . Orang tua itu juga menyampaikan pesan yang dibawa dari Rasulullah S.A.W untuk mendatangi dirinya. Mendengar cerita mengharukan tersebut , Fatimah r.a menjadi iba serta bingung dan terus berpikir, apa yang bisa diberikan untuk memenuhi hajat orang Arab Badui ini. Sebab pada waktu itu pun, Fatimah dan keluarganya juga belum mendapatkan makanan yang layak sebagai pengisi perut mereka selama beberapa hari.
Akhirnya, dalam pikirannya terbetik alas tidur yang terbuat dari kulit kambing, yang merupakan harta satu-satunya yang ada dirumah itu. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung memberikannya kepada musafir tua tersebut. Ketika melihat barang yang akan diserahkan Fatimah r.a kepadanya, sang kakek segera berkata," Wahai putri kekasih Allah. Saya datang ke sini karena rasa lapar yang melilit perutku, juga mengharap kepadamu selembar kain sebagai penutup tubuhku. Akan tetapi, engkau hanya memberikan barang ini. Apa yang bisa aku dapatkan dari selembar kulit binatang ini? "
Mendengar penuturan lugu tersebut, Fatimah r.a menjadi malu dan semakin bingung serta berpikir keras mencari apa yang layak diberikan untuk memenuhi kebutuhan orang tua itu. Akan tetapi sungguh... didalam rumahnya tak ada satu barang pun yang pantas untuk diberikan.
Tanpa sengaja, tangannya menyentuh kalung yang sedang melekat pada lehernya. Inilah satu-satunya barang berharga yang masih tersisa dan dimilikinya. Tanpa berpikir panjang lagi, dan disertai perasaan yang tulus dan ikhlas, dilepaskannya kalung tersebut serta langsung diberikan kepada musafir itu. " Ambillah kalung ini ! Hanya inilah satu-satunya barang berharga yang masih kumiliki. Mudah-mudahan Allah S.A.W berkenan memberikan gantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi," kata Fatimah r.a
Dengan perasaan riang gembira yang sulit untuk dibayangkan, orang itu menerima kalung pemberian Fatimah r.a kemudian ia kembali menghadap Rasulullah S.A.W dan menceritakan betapa mulianya akhlak dan sifat putrinya, begitu juga tentang kalung mas yang telah diberikan kepadanya. Pada saat itu, Rasulullah S.A.W sedang berkumpul bersama para sahabatnya. Ammar bin Yasir, yang kebetulan juga ikut duduk dan mendengar cerita tersebut, berkat" Wahai Rasulullah, bolehkah saya membeli kalung itu? " Rasulullah S.A.W menjawab " Silahkan kalau engkau menghendakinya."
Segera Ammar bin Yasir menemui orang Badui itu, lalu bertanya kepadanya," Berapa harga yang engkau inginkan untuk kalung itu ? "
Sang Musafir menjawab," Seharga beberapa potong roti dan daging yang bisa mengenyangkan perutku, ditambah sehelai kain dan beberapa keping dinar agar dapat ku gunakan untuk pulang ke kampung halaman ku. "
"Baiklah, kalung itu saya beli seharga 20 dinar ditambah 100 dirham. Selain itu , saya akan memberi roti dan daging secukupnya serta pakaian serta seekor unta, agar engkau dapat kembali pulang menemui keluargamu di dusun ," tawar Ammar.
Orang tua itu berkata," Baiklah, saya terima tawaran mu. " Kemudian mereka berdua meninggalkan majelis itu dan pergi menuju rumah Ammar untuk mengambil apa yang telah menjadi kesepakatan mereka berdua.
Sekembalinya dari rumah Ammar , terlihat wajah orang tua itu berseri-seri. Sambil memakai baju yang bagus dan mengendarai unta yang gemuk, dia pergi mendatangi Rasulullah S.A.W
" Bagaimana keadaanmu sekarang, wahai saudaraku? " tanya Rasulullah S.A.W
"Alhamdulillah, lebih baik dari sebelumnya. Allah telah melapangkan kehidupan saya melalui kebaikan keluarga dan sahabat tuan, " jawab si Badui . " Bahkan, sekarang saya merasa telah menjadi orang yang sangat kaya."
" Kalau begitu balas( doakanlah) atas kebaikan Fatimah r.a kepadamu!" ujar Rasulullah S.A.W
Orang tua itu langsung mengangkat tangannya , sambil menghadapkan wajahnya ke arah langit dan berdoa," Ya Allah ya Tuhanku, tiadalah sesuatu yang berhak ku sembah kecuali Engkau. Limpahkan lah kepada Fatimah sesuatu yang sangat berharga, yang tak terlihat oleh mata dan tak terdengar oleh telinga. Sebab hanya Engkau-Lah yang mampu memberinya." Mendengar doa yang telah selesai di ucapkan musafir tersebut, Rasulullah S.A.W segera berkata"AMIN"
Kalung yang telah diterima Ammar bin Yasir dibungkus dan diserahkan kepada budaknya, serta berpesan agar segera diberikan Rasulullah S.A.W sebagai hadiah, berikut dengan diri (budak) itu sekalian. Sesampainya di hadapan Rasulullah S.A.W kalung dan budak tersebut diberikan kepada putrinya, Fatimah r.a . Fatimah r.a menerimanya dengan penuh ras syukur dan segera memerdekakan budak yang telah diberikan kepadanya.
Melihat kejadian tersebut, budak (yang tak lain bernama Saham) melonjak kegirangan. Dengan perasaan bahagia, Saham berkata," Betapa besar berkah dari kalung ini. Ia telah mengenyangkan perut orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, membuat orang menjadi kaya, membantu musafir pulang kerumah nya, dan telah memerdekakan seorang budak."
Begitulah kedermawanan dan sifat kasih sayang yang terdapat dalam diri Fatimah r.a Lembaran hidupnya dipenuhi dengan perilaku yang menakjubkan. Sebagai ibu rumah tangga, dia terpaksa mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya, karena kondisi ekonomi nya yang jauh dari kecukupan. Dia sangat sayang kepada ayahnya, patuh kepada suami, dan setia kepada risalah yang telah diajarkan ayahnya. Ia sering kekurangan makanan, tetapi lebih mengutamakan orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Dia mendahulukan orang lain daripada diri dan keluarganya sendiri. Masih banyak lagi sifat-sifat mulia yang terdapat dalam diri Az-Zahra, sehingga sulit untuk ditandingi baik oleh orang-orang maupun sekarang

Sumber : Darul Hikmah




Tidak ada komentar:

Posting Komentar