GETARAN
Getaran adalah salah satu bentuk gerak yang khusus. Kita hanya
akan meninjau getaran atau osilasi yang sederhana. Untuk itu kita akan
meninjau energi potensial yang dimiliki sebuah partikel bermassa m yang
berada dalam keadaan kesetimbangan stabil di sekitar titik 0. Secara
umum bentuk energi potensialnya adalah
U = U0 − ax
2
+ O(x
3
) (1)
dengan O(x
3
) adalah suku-suku energi potensial dengan variabel x
berpangkat tiga atau lebih, yang tentunya harus sangat kecil dibandingkan suku pangkat duanya (bila tidak maka bukan kesetimbangan
stabil). Gaya yang terkait dengan energi potensial ini dapat dicari dari
Fxdx = −dU (2)3/19
menu
atau
Fx = −
dU
dx
= −2ax + O(x
2
) (3)
bila suku gaya pangkat dua atau lebih sangat kecil atau dapat diabaikan,
maka ini tidak lain dari gaya pegas, dan dengan 2a = k maka persamaan
di atas dapat dituliskan sebagai
Fx = m
d
2
x
dt
2
= −kx (4)
atau
m
d
2
x
dt
2
+ kx = 0 (5)
Persamaan ini memiliki bentuk penyelesaian umum
x(t) = A sin(ωt) + B cos(ωt) (6)
dengan
ω =
r
k
m
(7)4/19
menu
adalah frekuensi sudut dari getaran. Persamaan di (6) dapat dituliskan
juga sebagai
x(t) = A0 sin(ωt + φ) = A0(sin ωt cos φ + cos ωt sin φ) (8)
dengan A = A0 cos φ dan B = A0 sin φ, (sehingga φ = arcsin B/A
yang disebut sebagai fase getaran), dan A0 disebut sebagai amplitudo
getaran. Getaran yang memenuhi persamaan (5) disebut sebagai getaran
selaras sederhana.
Berikut ini beberapa contoh getaran selaras sederhana
Bandul
Sebuah bandul yang berada dalam medan potensial gravitasi, bila disimpangkan tidak jauh dari titik keseimbangannya akan mengalami gerak
getaran. Lihat gambar di bawah ini
Komponen gaya yang dialami bandul bermassa m yang sejajar dengan5/19
menu
Figure 1: Bandul
arah geraknya adalah
F = m
d
2
x
dt
2
− mg sin θ (9)
Tanda negatif karena arah gaya berlawanan dengan arah simpangan positif x. Untuk simpangan yang tidak terlalu besar, sin θ dapat kita dekati6/19
menu
sebagai sin θ ≈ θ (dalam radian) dan x ≈ Lθ sehingga
d
2
θ
dt
2
+
g
L
θ = 0 (10)
yang merupakan persamaan getaran selaras sederhana dengan frekuensi
ω =
r
g
L
(11)
Bandul Mekanis
Sebuah benda digantung pada titik P dan memiliki momen inersia terhadap sumbu P sebesar IP .
Benda ini disimpangkan dari titik seimbangnya dan kemudian bergetar. Torka yang dialami benda tadi, akibat gaya gravitasi yang bekerja
pada titik pusatnya dapat dituliskan sebagai
τ = IP α = IP
d
2
θ
dt
2
= −MgL sin θ (12)7/19
menu
Figure 2: Bandul mekanik
Untuk sudut yang cukup kecil sin θ ≈ θ sehingga
d
2
θ
dt
2
+
MgL
IP
θ = 0 (13)
Penyelesaian persamaan ini adalah suatu getaran selaras sederhana dengan frekuensi sudut
ω =
r
MgL
IP
(14)8/19
menu
Getaran Teredam dan Resonansi
Dalam kenyataan di alam, selain gaya yang menimbulkan getaran juga
terdapat gaya yang menghambat gerak getaran. Sehingga semua gerak
getaran akhirnya berkurang energinya dan berhenti bergetar. Sebagai
model sederhana kita asumsikan getaran teredam dengan gaya redaman
yang sebanding dengan kecepatan benda, sehingga persamaan gerak
benda dapat ditulis sebagai
F = −kx − bv (15)
atau
d
2
x
dt
2
+
b
m
dx
dt
+
k
m
x = 0 (16)
Penyelesaian persamaan di atas ini dapat dituliskan sebagai berikut
x = Ae
−bt/2m
cos(ω
0
t + φ) (17)9/19
menu
dengan
ω
0
=
r
k
m
−
b
2m
2
. (18)
Bentuk grafik getarannya sebagai berikut
Figure 3: Getaran teredam10/19
menu
Resonansi
Terkadang suatu sistem yang dapat bergetar mendapat gaya yang juga
periodik. Dalam kasus ini benda akan bergetar dengan amplitudo yang
besar ketika frekuensi alaminya sama dengan frekuensi gaya eksternal periodiknya. Sebagai model misalkan gaya eksternal periodiknya diberikan
oleh F = Fr cos ω
00
t, sehingga persamaan geraknya (dengan mengikutsertakan faktor redaman)
F = −kx − bv + Fr cos ω
00
t (19)
atau
d
2
x
dt
2
+
b
m
dx
dt
+
k
m
x = Fr cos ω
00
t (20)
Dari persamaan di atas, tentunya logis bila getarannya harus memiliki frekuensi yang sama dengan frekuensi getaran gaya eksternal periodik ω
00
, tetapi mungkin terdapat beda fase. Dapat ditunjukkan bahwa
penyelesaian persamaan di atas adalah
x =
Fr
G
sin(ω
00
t + φ) (21)11/19
menu
dengan
G =
p
m2
(ω002 − ω2
)
2 + b
2ω002
(22)
dan
φ = arccos
bω
00
G
(23)
Tampak bahwa nilai G akan minimum dan amplitudo akan maksimum
ketika ω = ω
00
. Peristiwa inilah yang biasa disebut resonansi.12/19
menu
Energi Getaran
Energi potensial sebuah sistem pegas diberikan oleh
U =
1
2
kx
2
(24)
sedangkan energi kinetiknya diberikan oleh
Ek =
1
2
mv
2
(25)
maka dengan
x = A sin(ωt + φ) (26)
dan
v =
dx
dt
= Aω cos(ωt + φ) (27)13/19
menu
maka energi total mekanik sistem pegas yang bergetar diberikan oleh
E = Ek + U =
1
2
kA
2
sin
2
(ωt + φ) +
1
2
mω
2
A
2
cos
2
(ωt + φ) =
1
2
kA
2
(28)14/19
menu
GELOMBANG
Gelombang adalah getaran yang merambat. Jadi di setiap titik yang
dilalui gelombang terjadi getaran, dan getaran tersebut berubah fasenya
sehingga tampak sebagai getaran yang merambat. Terkait dengan arah
getar dan arah rambatnya, gelombang dibagi menjadi dua kelompok,
geklombang transversal dan gelombang longitudinal. Gelombang transversal arah rambatnya tegak lurus dengan arah getarannya, sedangkan
gelombang longitudinal arah rambatnya searah dengan arah getarannya.
Persamaan gelombang memenuhi bentuk
d
2
x
dz
2
=
1
v
2
d
2
x
dt
2
(29)
Bentuk umum penyelesaian persamaan di atas adalah semua fungsi yang
berbentuk x(z, t) = x(z ± vt). Hal ini dapat ditunjukkan dengan mudah. Bentuk yang cukup sederhana yang menggambarkan gelombang15/19
menu
sinusoidal adalah penyelesaian yang berbentuk
x(z, t) = A sin(kz ± ωt + φ) (30)
Untuk suatu waktu t tertentu (misalkan t = 0, dan pilih φ = 0) maka
x(z, t) = A sin(kz) (31)
Ini adalah persamaan sinusoidal dengan jarak dari satu fase ke fase
berikutnya diberikan oleh
z ≡ λ =
2π
k
(32)
atau berarti
k =
2π
λ
(33)
Bilangan k ini menunjukkan jumlah gelombang atau bilangan gelombang
per 2π satuan panjang.
Untuk suatu posisi tertentu (misalkan z = 0, dan pilih φ = 0) maka
x(z, t) = −A sin(ωt) (34)16/19
menu
Ini adalah persamaan getaran sinusoidal di suatu titik. Periode getarnya
diberikan oleh
t ≡ T =
2π
ω
(35)
atau berarti
ω =
2π
T
= 2πf (36)
dengan f adalah frekuensi gelombang.
Untuk suatu fase tertentu dari gelombang, pola gelombang tersebut
akan tetap selama nilai kx − ωt tetap. Sehingga dengan berjalannya
waktu, nilai kz juga harus bertambah. Ini berarti pola gelombang akan
merambat ke kanan dengan kecepatan yang diberikan oleh
kdz
dt
= ω (37)
atau
v =
dz
dt
=
ω
k
(38)17/19
menu
Superposisi Gelombang
Dua buah gelombang dapat dijumlahkan atau disuperposisikan. Ada
beberapa kasus yang akan kita tinjau. Kasus dua gelombang dengan
ω, k sama tetapi berbeda fasenya. Kasus dua gelombang dengan ω, k
sama tetapi arah geraknya berlawanan. Kasus dua gelombang dengan
ω dan knya berbeda sedikit.
Beda fase
Misalkan kita punya
x1 = A sin(kz − ωt + φ1) (39)
x2 = A sin(kz − ωt + φ2) (40)18/19
menu
Penjumlahan kedua gelombang ini menghasilkan
xtot = x1 + x2 = 2A sin(kz − ωt + φ¯
) cos(δφ) (41)
dengan φ¯ = (φ1 + φ2)/2 dan δφ = (φ1 − φ2)/2
Beda arah kecepatan
Misalkan kita punya
x1 = A sin(kz − ωt) (42)
x2 = A sin(kz + ωt) (43)
Penjumlahan kedua gelombang ini menghasilkan
xtot = x1 + x2 = 2A sin(kz) cos(ωt) (44)
Fenomena ini sering disebut sebagai gelombang tegak19/19
menu
Beda frekeunsi dan panjang gelombang
Misalkan kita punya
x1 = A sin(k1z − ω1t) (45)
x2 = A sin(k2z − ω2t) (46)
Penjumlahan kedua gelombang ini menghasilkan
xtot = x1 + x2 = 2A sin(
¯
kz − ωt¯ + φ¯
) cos(δkz − δωt) (47)
dengan
¯
k = (k1 +k2)/2, ω¯ = (ω1 +ω2)/2 dan δk = (k1 −k2)/2, δω =
(φ1 − φ2)/2
Ketika bedanya sangat kecil maka muncul fenomena yang disebut
sebagai layangan.
admin : Ratna F
admin : Ratna F
Tidak ada komentar:
Posting Komentar