ASAL USUL PENDIRIAN KA’BAH
Ka’bah adalah
kiblat seluruh kaum muslimin dunia yang menjadi simbol kesatuan mereka dibawah
ikatan tauhid dan keimanan kepada Allah swt. Ka’bah adalah bangunan pertama di
bumi, sebagaimana firman Allah swt :
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ
لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
Artinya : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Al Imron : 96)
Pembangunan
ka’bah hingga seperti yang sekarang ini telah melalui beberapa tahapan :
1. Dibangun oleh para malaikat.
Kaum muslimin
meyakini bahwa pembangunan ka’bah pertama kali dilakukan oleh para malaikat,
sebagaimana disebutkan Imam Ibnu adh Dhiya bahwa telah diriwayatkan dari Ali
bin al Husein bahwa dia telah ditanya tentang awal mula thawaf mengelilingi
baitullah beliau menjawab Sesungguhnya Allah swt telah berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ
لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ
فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء
Artinya :: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Al Baqoro : 30)
Terdapat riwayat
pula yang menyebutkan bahwa Allah swt telah mengutus malaikat dan berkata
kepada mereka,”Bangunlah oleh kalian sebuah rumah seperti al baitul ma’mur lalu
mereka pun melakukannya. Allah swt memerintahkan agar rumah itu dikelilingi
(thawaf) sebagaimana al baitul ma’mur. Ini terjadi sebelum penciptaan Adam as
serta 2000 tahun sebelum penciptaan bumi. Dan sesungguhnya bumi dibentangkan
dibawahnya karena itulah Mekah disebut dengan Ummul Quro yaitu asal negeri
(bumi, pen).
Terdapat pula
riwayat yang menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebelum diturunkannya Adam
as ke bumi… (Tarikh Makkah al Musyarrafah hal 4)
2. Wasiat Nabi Adam kepada anaknya Nabi Sys
Sys adalah
penerus dari Nabi Adam as yang diberikan wasiat oleh ayahnya untuk senantiasa
beribadah siang dan malam. Ibnul Atsir menyebutkan bahwa Sys senantiasa
melakukan haji dan umroh hingga ajal menjemputnya dan dia juga mengumpulkan
lembaran-lembaran yang diturunkan kepadanya dan kepada ayahnya lalu mengamalkan
isinya. Sys telah membangun ka’bah dengan batu dan tanah. (Al Kamil Fii at
Tarikh juz I hal 17)
3. Pada masa Ibrahim dan Ismail as.
As Suddiy
mengatakan bahwa tatkala Allah swt memerintahkan Ibrahim dan Ismail agar
membangun sebuah rumah lalu mereka berdua tidak mengetahui dimana tempat akan
dibangunnya hingga Allah mengirimkan angin, ada yang menyebutkan angin itu
adalah al khajuj yang memiliki dua sayap sementara kepalanya berbentuk ular. Lalu
ular itu membersihkan daerah sekitar ka’bah sebagai tempat dibangunnya rumah
pertama. Keduanya pu mengikutinya dengan membawa alat penggali dan melakukan
penggalian sehingga mereka berdua berhasil meletakkan pondasinya, sebagaimana
firman Allah swt
وَإِذْ بَوَّأْنَا
لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ
Artinya : “Dan (ingatlah), ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah.” (QS. Al Hajj : 26)
Setelah mereka
berdua meletakkan dasar-dasarnya maka dibangunlah rukun-rukunnya. Dan Ibrahim
mengatakan kepada Ismail,”Wahai anakku, carikanlah untukku batu hitam dari
daerah India ,
dahulunya ia adalah batu yakut yang paling putih. Dahulu batu itu dibawa oleh
Adam as tatkala diturunkan ke bumi dari surga namun kemudian berubah warnanya
menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Ismail pun membawa sebuah batu namun ia
mendapatkan batu hitam itu sudah berada disalah satu sudut. Ia pun bertanya
kepada ayahnya,”Wahai ayahku siapa yang mendatangkan batu itu kepadamu?’
Ibarahim menjawab,”Dia adalah yang lebih rajin darimu.” Maka mereka berdua
membangunnya dan sambil berdoa,”
Artinya : "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al Baqoroh : 127)
4. Dibangun oleh orang-orang Quraisy.
Pada usia
Rasulullah saw mencapai tiga puluh lima
tahun, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi ka’bah. Ka’bah adalah
susunan batu-batu yang lebih tinggi dari badan manusia, sekitar sembilan hasta
yang dibangun sejak masa Ismail tanpa memiliki atap sehingga banyak pencuri
yang mengambil barang-barang berharga yang disimpan didalamnya.
Akhirnya al Walid
bin al Mughirah al Makhzumiy mengawali perobohan bangunan ka’bah lalu diikuti
oleh orang-orang setelah mereka mengetahui tidak terjadi sesuatupun menimpa al
Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan ka’bah hingga sampai
rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.
Tatkala
pembangunan sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang
siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad itu ditempatnya
semula. Perselisihan ini terus berlangsung selama empat atau lima hari, tanpa ada keputusan. Bahkan
perselisihan itu semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan
darah di tanah suci.
Abu Umayyah bin
al Mughirah al Makhzumiy datang dan menawarkan solusi dengan menyerahkan urusan
ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka
menerima cara ini. Allah menghendaki orang yang berhak atasnya adalah
Rasulullah saw. Tatkala mengetahui hal itu, mereka berbisik-bisik,”Inilah al
Amin. Kami ridho kepadanya, inilah dia Muhammad.”
Orang-orang
Qiraisy kehabisan dana dari penghasilan mereka, maka mereka menyisakan di
bagian utara, kira-kira enam hasta, yang kemudian disebut al Hijr atau al
Hathim. Mereka membuat pintunya lebih tinggi dari permukaan tanah, agar tidak
bisa dimasuki kecuali oleh orang yang memang ingin melewatinya. Setelah
bangunan ka’bah mencapai ketinggian lima
belas hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.
Setelah jadi,
ka’bah itu berbentuk segi empat, yang keinggiannya kira-kira mencapai lima belas hasta, panjang
sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah sepuluh meter. Hajar Aswad
itu sendiri diletakkan dengan ketinggian satu setengah meter dari permukaan
pelataran untuk thawaf. Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya setinggi dua
belas meter. Adapun pintunya setinggi dua meter dari permukaan tanah, di
sekeliling luar ka’bah ada pagar dari bagian bawah ruas-ruas bangunan, di
bagian tengahnya dengan ketinggian seperempat meter dan lebarnya kira-kira
sepertiga meter. Pagar ini dinamakan Asy Syadzarawan. Namun kemudian
orang-orang Quraisy meninggalkannya. (ar Rakhiqul Makhtum hal 84 – 85)
5. Pada masa Abdullah bin Zubeir.
Abdullah bin
Zubeir memutuskan perenovasian ka’bah seperti yang diinginkan Rasulullah saw
ketika beliau masih hidup. Dia pun merobohkannya dan membangun kembali serta
menambahkan bagian yang masih kurang ketika orang-orang Quraisy kehabisan dana
dari enam hasta menjadi sepuluh hasta. Dia juga menjadikan ka’bah memiliki dua
pintu, satu di sebelah timur dan lainnya di sebelah barat sehigga orang yang
memasukinya dari satu pintu dan keluar di pintu yang lainnya. Dia menjadikannya
dalam bentuk yang paling baik dan megah sehingga seperti yang disifatkan Nabi
saw sebagaimana diberitakan oleh Aisyah ra ibu orang-orang beriman yang juga
bibinya.
6. Pada masa Abdul Malik bin Marwan
Pada masa Abdul
Malik bin Marwan ini al Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqofiy menulis surat kepadanya
atas apa yang diperbuat Abdullah bin Zubeir dengan ka’bah, tentang perenovasian
dan penambahan bagian ka’bah, dia mengira bahwa hal itu adalah hasil fikiran
dan ijtihadnya.
Lalu Abdullah bin
Malik membalas suratnya agar mengembalikan ka’bah seperti sedia kala. Al Hajjaj
pun merobohkan bagian utaranya dan mengeluarkan al Hijr sebagaimana yang telah
dibangun orang-orang Quraisy serta menjadikan ka’bah memiliki satu pintu saja
yang lebih ditinggikan serta menutup pintu yang lainnya.
Tatkala Abdul Malik bin Marwan mendapatkan hadits Aisyah maka ia pun menyesali perbuatannya sehingga mengatakan,”Kami sangat berkeinginan mengembalikan seperti orang yang membangun sebelumnya.” Maksudnya Abdullah bin Zubeir. Lalu ia pun bermusyawarah dengan Imam Malik dalam permasalahan ini dan beliau pun mencegahnya agar kemuliaan ka’bah tidak lenyap. Dan dikahwatatirkan setiap raja akan melakukan perobohan sebagaimana yang dilakukan orang-orang sebelumnya sehingga dapat menodai kehormatan ka’bah.
Tatkala Abdul Malik bin Marwan mendapatkan hadits Aisyah maka ia pun menyesali perbuatannya sehingga mengatakan,”Kami sangat berkeinginan mengembalikan seperti orang yang membangun sebelumnya.” Maksudnya Abdullah bin Zubeir. Lalu ia pun bermusyawarah dengan Imam Malik dalam permasalahan ini dan beliau pun mencegahnya agar kemuliaan ka’bah tidak lenyap. Dan dikahwatatirkan setiap raja akan melakukan perobohan sebagaimana yang dilakukan orang-orang sebelumnya sehingga dapat menodai kehormatan ka’bah.
7. Pada masa Kekhilafahan Utsmani tahun 1040 H.
Tatkala Mekah
dilanda banjir besar yang menenggalamkan Masjidil Haram maka Muhammad Ali
Pasya—Gubernur Mesir saat itu—memerintahkan para arsiteknya yang ahli dan para
pekerjanya agar merobohkan ka’bah dan merenovasi kembali. Pembangunan itu
memakan waktu setengah tahun penuh dan memakan biaya yang sangat mahal hingga
rampung pembangunannya. (www.islamweb.net)
Demikianlah awal
mula pembangunan ka’bah hingga hari ini yang tetap kokoh dan menggetarkan
setiap orang yang melihatnya dan mengembalikan kebesarannya kepada Allah swt
Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.
Dan apa yang anda
tanyakan tentang adanya seekor ular di tempat awal mulanya akan dibangun ka’bah
maka telah disinggug di atas yaitu terjadi pada masa Ibrahim dan Ismail as,
sebagaimana yang dikatakan Imam As Suddiy.
diposkan oleh : lifiaarisma@blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar